Tuesday, July 16, 2019

Posyandu Remaja Solusi Gerakan Hidup Sehat Masyarakat (Germas) dalam Pengedalikan Penyakit Tidak Menular


SUPERTELUR, 16/7/2019. Embun sangat lihai menerangkan tentang bagaimana ia dan keluarganya menerapkan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Mesti usianya baru 17 tahun, bak seorang praktisi kesehatan profesional ia mampu menjelaskan berbagai masalah seputar kesehatan utamanya penyakit tidak menular.

Ia memulai cerita tentang kondisi di dunia saat ini dimana penyakit tidak menular menempati ranking pertama sebagai pembunuh manusia. Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. PTM juga membunuh penduduk dengan usia yang lebih muda. Di negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah dan menengah, dari seluruh kematian yang terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29% disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju, menyebabkan 13% kematian. Proporsi penyebab kematian PTM pada orang-orang berusia kurang dari 70 tahun, penyakit cardiovaskular merupakan penyebab terbesar (39%), diikuti kanker (27%), sedangkan penyakit pernafasan kronis, penyakit pencernaan dan PTM yang lain bersama-sama menyebabkan sekitar 30% kematian, serta 4% kematian disebabkan diabetes.
Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan terbesar akan terjadi di negara-negara menengah dan miskin. Lebih dari dua pertiga (70%) dari populasi global akan meninggal akibat penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, stroke dan diabetes. Dalam jumlah total, pada tahun 2030 diprediksi akan ada 52 juta jiwa kematian per tahun karena penyakit tidak menular, naik 9 juta jiwa dari 38 juta jiwa pada saat ini. Di sisi lain, kematian akibat penyakit menular seperti malaria, TBC atau penyakit infeksi lainnya akan menurun, dari 18 juta jiwa saat ini menjadi 16,5 juta jiwa pada tahun 2030.4 Pada negara-negara menengah dan miskin PTM akan bertanggung jawab terhadap tiga kali dari tahun hidup yang hilang dan disability (Disability adjusted life years=DALYs) dan hampir lima kali dari kematian penyakit menular, maternal, perinatal dan masalah nutrisi.
Embun dapat menjelaskan, jika diabetes disebut sebagai ibu dari berbagai penyakit karena diabetes bisa menjadi penyebab dari banyak komplikasi penyakit, seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit pada mata, penyakit pada kaki, penyakit saraf, dan masih banyak lagi lainnya.
Komplikasi ini bisa timbul karena kadar gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, dan kadar kolesterol tinggi. Oleh karena itu, jika  penderita diabetes dan tidak ingin menderita komplikasi diabetes, maka diharuskan untuk mengontrol ketiga hal tersebut. Menerapkan pola makan sehat, melakukan olahraga teratur, berhenti merokok dan konsumsi minuman alkohol, yang dapat membantu terhindar dari komplikasi diabetes.
Embun menceritakan tentang bagaimana keluarganya berjuang melawan penyakit tidak menular, penderitaan selama merawat anggota keluarga yang terkena penyakit tidak menular dan cara penanggulangannya.  Neneknya adalah penderita penyakit gula (diabetes), terdeteksi sejak 42 tahun yang lalu saat melahirkan ibunya Embun. Sekarang usia neneknya sudah 62 tahun, selama kurun waktu 40 tahun, neneknya menjadi pasien tetap di RS Sardjito Yogyakarta.

Penyakit dibetes yang diderita oleh neneknya hanya awal penderitaan, penyakit-penyakit turunan diabetes mulai dirasakan sejak sepuluh tahun terakhir; tahun 2005 penyakit glaucoma dimana kemampuan melihatnya menjadi sangat rendah, pada tahun 2012 penyakit jantung mulai menjangkiti terpaksa 5 ring dan 2 balon harus dipasang pada pembuluh darah untuk menyelamatkan nyawa beliau dan pada tahun 2016 kemarin 2 payudaranya harus diangkat karena ditemukan kangker. Setiap bulan minimal 1 minggu harus ke RS Sardjito untuk memastikan bahwa semua penyakit tersebut aman bagi nenek yang mestinya tinggal menikmati masa tuanya tersebut.
Perlu kesabaran ekstra tinggi bagi keluarga yang memiliki penderita penyakit seperti neneknya Embun. Selain butuh waktu yang lama untuk berobat ke rumah sakit, menghadapi penderita penyakit tersebut perlu kiat-kiat khusus; bagaimana mempersiapkan makanannya, mengajak untuk beraktivitas fisik dan yang paling untama memberi motivasi untuk tetap semangat agar tetap merasa senang dalam hidupnya. Semua anggota keluarga harus terlibat untuk tujuan tersebut.
Hikmah terbaik dari keadaan ini adalah, Embun dan keluarganya jadi mengetahui bagaimana penyakit tidak menular tersebut dapat menjangkiti neneknya. Selain karena gen, pola hidup ternyata adalah penyebab dari itu semua, pada masa mudanya nenek memiliki kebiasaan minum-minuman bersoda yang manis, makanan berlemak, gorengan dan minim sekali aktivitas fisik. Lambat laun kebiasaan tersebut tak mampu terkendalai, sampai akhirnya justru menjadi pemicu terjadinya penyakit yang diderita saat ini.
Dari pengalaman keluarga itulah, Embun tergerak untuk memulai hidup sehat mencari referensi melalui berbagai sumber bagaimana hidup sehat agar terhindar dari penyakit-penyakit tidak menular tersebut. Leaflet di puskesmas atau tempat kesehatan lainnya, media, internet dan tentu saja lingkungan menjadi sarana untuk mencari informasi hidup sehat. Itu saja tidak cukup, Embun mesti memiliki partner untuk mendukung pola hidup sehatnya. Lingkungan tempat dimana Embun setiap hari tinggal harus terlibat agar informasi hidup sehat menjadi lebih kaya dengan wawasan yang lain selain itu penerapan pola hidup sehat ini bisa bertahan selamanya.
Embun dan teman-teman di desa tidak mau pola hidup sehat yang sudah mereka lakukan berhenti pada mereka. Embun memutuskan untuk berbagi pengalaman hidup sehatnya bersama teman-teman mudanya, melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dibimbing oleh petugas dari Puskesmas Kecamatan. Melalui Germas, Embun dan teman-temannya membentuk Posyandu Remaja untuk menyasar anak-anak muda lain agar informasi sehat dapat lebih dini diketahui oleh mereka. Posyandu yang biasanya hanya untuk balita, ibu hamil dan orang tua, menjadi lebih hidup karena kehadiran anak-anak muda.

Posyandu adalah wadah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibimbing petugas terkait. (Departemen Kesehatan RI. 2006). Kegiatan Posyandu remaja merupakan salah satu kegiatan upaya kesehatan berbasis masyarakat (remaja), kegiatan dilakukan untuk memantau kesehatan remaja dengan melibatkan remaja itu sendiri. Tak hanya itu, posyandu remaja juga merupakan tempat untuk pemberian informasi kesehatan maupun informasi penting lainnya kepada remaja secara rutin setiap bulannya.
Dusun Tempel adalah salah satu dusun di Desa Bumirejo Kecamatan Lendah Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah membentuk  Posyandu Remaja pata tahun iniTerbentuknya kegiatan tersebut menginduk pada kegiatan Karang Taruna yang sudah aktif, setiap 2 minggu sekali. Tujuan pembentukan  Posyandu Remaja adalah untuk memperdayakan,mengedukasi dan melibatkan  remaja  dalam upaya intervensi terkait masalah kesehatan. Posyandu Remaja juga merupakan wadah untuk  memantau kesehatan remaja secara berkala.
Malam itu kegiatan dihadiri oleh 38 remaja. Beberapa kegiatan Posyandu Remaja antara lain; dilakukan screening Usia Produktif, pemeriksaan fisik, saat screening juga dilakukan wawancara faktor resiko  penyakit tidak menular, pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS)  serta dilakukan deteksi gangguan mental emosional. Posyandu Remaja dusun Tempel dilakukan setiap hari Sabtu minggu pertama dan ketiga tiap bulannya. 
Anak-anak muda lebih kreatif dan pandai dalam memanfaatkan media sosial maupun internet, mereka mudah dipengaruhi dengan hal-hal baik seputar info kesehatan. Cerita tentang kisah keluarga Embun dan keluarga teman-teman yang lainnya dalam kegiatan Posyandu Remaja menjadi inspirasi untuk teman-temannya yang lain.
Suksesnya Gerakan Masyarakat Hidup sehat (GERMAS) butuh keterlibatan semua pihak. Pemerintah, swasta dan masyarakat harus bahu membahu mengendalikan penyakit tidak menular. Posyandu Remaja adalah salah satu contoh kongkrit bagaimana Embun dan para remaja lainnya menjadi lebih paham dan  mau menjalani pola hidup sehat serta terlibat dalam penanggulangan pengendalian penyakit tidak menular. (AWB).  

# germas #penyakittidakmenular#posyanduremaja

Referensi:



Read More

Friday, July 12, 2019

Tantangan Rebranding Koperasi di Era Milenial

"Sejak dirumuskan oleh pendiri bangsa sampai dengan era milenial sekarang ini, Koperasi dipahami sebagai spirit dalam mencapai keadilan ekonomi tidak sekedar badan usaha yang bebas nilai, oleh karena itu Koperasi harus diperjuangkan berbeda dengan cara-cara badan usaha yang lainnya"


SUPERTELUR, 12/7/2019. Koperasi sebagai soko guru/pilar penyangga perekonomian nasional Indonesia telah diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 33, namun begitu sejak negara ini merdeka cita-cita tersebut belum dapat diwujudkan. Kontribusi Koperasi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Nasional masih di bawah 5% hingga saat ini, artinya masih jauh panggang daripada api. 

Kurang berkembangnya Koperasi di Indonesia karena salah satunya adalah salah dalam memahami Koperasi. Koperasi hanya dipahami sebagai badan usaha yang sama dengan yang lainnya padahal lebih jauh dari itu Koperasi adalah badan usaha sekaligus badan hukum yang tidak bebas nilai, ada ideologi yang harus diperjuangkan yaitu mencapai keadilan ekonomi. 

Koperasi menempatkan manusia lebih tinggi dari pada modal, modal hanya alat bantu untuk mencapai kesejahteraan. Meyakinkan kembali kepada masyarakat bahwa Koperasi adalah badan usaha terbaik untuk mencapai kesejahteraan ekonomi seperti yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa adalah tidak mudah. 

Tantangannya dari waktu ke waktu senantiasa berubah, namun Koperasi sebenarnya dapat melintasi itu semua, kalau kita memahami secara utuh spirit Koperasi yang sesungguhnya yaitu mencapai keadilan ekonomi. Sejak dirumuskan oleh pendiri bangsa sampai dengan era milenial sekarang ini, Koperasi dipahami sebagai spirit dalam mencapai keadilan ekonomi tidak sekedar badan usaha yang bebas nilai, oleh karena itu Koperasi harus diperjuangkan berbeda dengan cara-cara badan usaha yang lainnya. 

Tantangan Rebranding Koperasi 
Tantangan terbesar Koperasi di Indonesia dalam menghadapi era milenial ada 3; Pertama, Bonus Demografi Tahun 2030 dimana Indonesia pada tahun tersebut akan didominasi oleh 70% kaum produktif, yang apabila tidak mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi justru akan menjadi bencana. Kedua, Pasar Bebas/Globalisasi, dengan adanya pasar bebas Koperasi dituntut untuk bersaing tidak hanya dengan badan usaha di dlam negeri namun juga dengan badan usaha lainnya di luar negeri. Ketiga, Regulasi yang menghambat gerak cepat koperasi untuk mengikuti dinamika bisnis. 

Koperasi dan Generasi Milenial 
Generasi milenial diidentikan sebagai generasi muda yang memiliki budaya baru seperti; multitasking yang terbiasa dengan dunia gadget, profesi baru yang jauh berbeda dengan era sebelumnya, kegemaran baru dan dinamis sangat peka terhadap perubahan yang cepat. Oleh karena itu Koperasi harus dibawa ke arah dimana era para milenial ini berada. Koperasi harus mengikuti dinamika yang ada, caranya Koperasi dan Pemerintah harus mencari pendekatan yang baru yang menarik perhatian generasi milenial. Koperasi harus mempromosikan keunggulan-keunggulan mereka dibandingkan dengan badan usaha yang lainnya, masuk pada bidang-bidang usaha yang digemari oleh kaum milenial saat ini. Misalnya; Fashion, perfilman, musik, kuliner, hiburan, komputer dan bidang-bidang usaha lainnya. Koperasi harus keluar dari stigma lama yang hanya berkutat pada usaha simpan pinjam dan kuno. Koperasi harus direbranding menyesuaikan zaman kekinian yang "gaul" dan bisa dikembangkan ke semua sektor bisnis. Kita harus bisa memberi contoh Koperasi-Koperasi di dunia yang telah besar dan maju seperti; Koperasi Agribisnis Zen Noh Jepang, Koperasi Confederacao Nacional das Cooperativas Medicas Unimed Brazil, Koperasi CHS, Inc. America Serikat dan banyak contoh Koperasi besar lainnya. 

Penutup 
Mewujudkan kesejahteraan ekonomi yang berkeadilan adalah cita-cita Bangsa Indonesia. Koperasi adalah badan usaha yang paling sesuai dengan cita-cita tersebut. Menghadapi tantangan milenial, jika Koperasi ingin tetap eksis, maka Koperasi harus mereposisi image atau rebranding sesuai dengan karakter generasi milenial dan tantangan-tantangan yang akan dihadapi di era milenial. Peran strategis pemerintah sangat diperlukan sebagai regulator dan fasilitator. Sebagai regulator, pemerintah harus mengembalikan citra Koperasi yang baik melalui peraturan yang tegas, bubarkan rentenir berkedok Koperasi Simpan Pinjam dan Koperasi papan nama. Sebagai fasilitator, Pemerintah harus mengambil peranan mempromosikan keunggulan-keunggulan Koperasi kepada generasi milenial agar bersinerginya berlangsung secara alamiah bukan paksaan atau iming-iming bantuan soaial. (AWB) #lombaDISKOPUKMDIY2019
Read More