Wednesday, May 1, 2019

Berburu Produk Unik di Pameran Gelar Produk UKM Istimewa

SUPERTELUR, 30/04/2019. Saya selalu tertarik untuk berbicara masalah UKM, karena saya selalu menangkap spirit, daya juang pantang menyerah dan kreativitas mereka dalam melakukan usahanya. Utamanya para pelaku UKM pemula, ide yang muncul selalu original, baru dan diluar bayangan orang pada umumnya. Seperti yang akan saya ceritakan berikut ini yaitu pengalaman  saya mengunjungi Pameran "Gelar Produk Pelaku Makanan, Minuman, Craft dan Fashion Istimewa"  gelaran Dinkop dan UKM DIY bersama PLUT Yogyakarta  yang diselenggarakan pada tanggal 30 April dan 1 Mei 2019 di halaman kampus 4 UAD Yogyakarta.

Saya sengaja datang di hari pertama (30/4/2019) berharap memperoleh gambaran yang lengkap tentang peserta pameran. Puluhan stand tertata rapi dalam tenda di halaman kampus 4 UAD Yogyakarta. Stand produk kuliner, craft dan fashion dari pelaku UKM di DIY memajang produk terbaiknya, di sisi yang lain terdapat panggung utama yang menyajikan berbagai hiburan untuk menghidupkan suasana pameran. Saya memasuki lokasi pameran melalui pintu utama, yang dibuat seperti gapura dengan berbagai hiasan menarik termasuk tema kegiatan yang ditulis di atas gapura tersebut.
Aroma harum dan gurih yang berasal dari beberapa stand produk kuliner yang sedang beraktivitas, menggoreng, membakar, membuat adonan dan aktivitas lainnya. Sayup terdengar dari panggung utama alunan musik akustik yang dimainkan oleh beberapa pemuda. Suasana syahdu itu berpadu padan dengan riuhnya para pengunjung pameran yang rata-rata adalah mahasiswa menyaksikan, mengamati dan membeli produk-produk pameran.
Sengaja saya melihat dan mengamati  satu-persatu stand dari seluruh peserta pameran sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa produk kuliner. Saya memilih produk UKM paling unik, baru dan menarik untuk saya review sebagai pembanding dari produk-produk yang sudah kami miliki. Saya memutuskan untuk membeli, Sate Pentul , Cumi Bakar dan Es Jeruk Nipis Bunga Selasih.

Sate Pentol 
Produk ini sebenarnya adalah pempek yang disajikan dengan cara disunduk. Pempek berbentuk bulat sebesar bola kasti, disunduk kemudian digoreng dalam minyak yang sangat panas, uniknya pempek digoreng bersamaan dengan sunduk bambu yang digunakan. Satu porsi sate pentul harganya hanya Rp 12.000,-  berisi 3 buah pempek goreng yang disajikan bersama dengan saos sambal. Saya membeli satu porsi untuk saya bawa pulang, menggunakan plastik mika sederhana sate pentol saya siap untuk saya bawa pulang. Penjual produk ini  berasal dari Palembang, menurut penjaga stand sampai saat ini telah memiliki 6 unit usaha sate pentol  di Yogyakarta.


Cumi Bakar
Saya tertarik untuk membeli produk ini terutama pada proses memasaknya. Seluruh proses memasaknya dilakukan selacara langsung "live cooking", kita bisa melihat prosesnya mulai dari awal hingga cumi bakar ini siap disantap. Semua bahan baku yang berupa seafood ditaruh di depan dengan sebuah nampan, dipisahkan sesuai jenisnya dalam keadaan segar. Pembeli bisa langsung memilih, ada udang, cumi, sotong, kerang dan seafood lainnya. Saya memilih untuk membeli sotong bakar, sejenis cumi namun berdaging lebih tebal, berwarna merah kehitaman. Sotong pilihan saya tersebut langsung diangkat dan ditaruh pada sebuah papan besi yang panas karena dibawahnya terdapat kompor. Sotong dibakar secara utuh, setengah matang kemudian baru dipotong-potong sedemikian rupa menggunakan gunting. Badan sotong tidak dipotong secara penuh, ia hanya hanya disayat-sayat tidak sampai terpotong sehingga tampilan ketika matang seperti per. Dengan cekatan pedagang yang merangkap sebagai chef melakukan aksinya, sembari tangan kirinya membolak-balikan sotong pada papan besi, "flaming" main api dimulai, sotong di atas papan tersebut disembur api dengan sebuah alat semancam alat las portabel berbentuk seperti botol minyak wangi. Aksi ini menarik perhatian banyak orang, tanpa teriak-teriak, pengunjung sudah berjubel mengelilingi stand penjualnya. Sekitar 5 menit dibutuhkan waktu untuk memasak pesanan saya tadi, penjual menawarkan untuk saosnya ada asam manis, asam pedas, barbeque dan lada hitam. Saya memilih lada hitam, sesaat kemudian pesanan saya sudah siap di dalam mika sederhana, cumi bakar berbalut saus lada hitam. Harga per porsinya adalah Rp 10.000,- sangat murah untuk membayar aksi chef atraktif ini.


Es Jeruk Nipis Bunga Selasih
Ini produk yang sudah saya incar sejak awal saya datang, selain penasaran dengan potongan nipis dalam sajian cup saya menangkap keunikan biji bunga selasih yang ada dalam sajian seperti telur katak berpadu padan dengan warna kehijauan sirup dan kesegaran es batu, pasti minuman ini sangat nikmat diminum saat panas seperti siang itu. Benar juga saya akhirnya membeli satu untuk saya minum di tempat dan atas hasil tes rasa penasaran tersebut saya putuskan membeli satu cup lagi untuk saya bawa pulang. Saya mendapatkan satu cup plastik ukuran 14" minuman es jeruk nipis bunga selasih beserta sedotannya. Harga satu gelas cup cukup murah yakni Rp 5.000,-


Paket Sate Pekmpek and Cumi Panggang With Black Papper Sauce 
Mengemas produk UKM menjadi berkelas membutuhkan ide dan kreativitas. Tidak jarang produknya sudah keren namun kemasannya kurang bagus sehingga image produk tidak diterima masyarakat akhirnya kurang laku di pasaran.
Tiga produk di atas sangat layak untuk disajikan di rumah makan bahkan resto kelas menengah karena memiliki sisi keunikan dan kwalitas rasa yang baik. Namun ketiganya harus dikemas dan ditampilkan lebih menarik. Berikut ini adalah hasil saya mengkombinasikan ketiga produk untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Saya melakukan di salah satu cabang RM Supertelur Taliroso.
Langkah Pertama yang saya lakukan adalah membuka dan cek seluruh produk yang saya beli tadi, benar dugaan saya semua tumpah karena wadah yang kurang bagus, Pentol Goreng dan Cumi Bakar sausnya banyak yang keluar dari wadahnya, sementara es jeruk nipis hanya tinggal separuh cup, sisanya tumpah di tas kresek. 

Langkah Kedua,  saya persiapkan peralatan sajian serta beberapa tambahan sayuran untuk memperkaya sajian saya. Saya mempersiapkan piring, sendok, garpu dan gelas untuk mengganti mika dan cup plastik. Untuk sayuran saya menambahkan loncang, bawang bombay, tomat, kapri, cabai teropong merah dan hijau, wortel, brokoli serta nasi putih.

Langkah Ketiga, saya memindahkan semua makanan dan minuman pada tempat yang di sediakan, setelah itu sayuran saya persiapkan. Terutama untuk cumi bakar lada hitam, saya menambahkan aneka sayur yang saya potong sedemikian rupa untuk memperoleh warna yang serasi sekaligus memberi nuansa segar pada sajian.
Berikut ini adalah hasil kombinasi dari ketiga produk setelah saya lakukan perubahan dalam tampilan dan mengganti wadah aslinya:


Saya memberi nama menu baru ini dengan:  Sate Pekmpek and Cumi Panggang With Black Papper Sauce 

Saya teringat beberapa bulan yang lalu saya mengeluarkan produk yang ikonik Yogyakarta, yang sebenarnya dari segi biaya produksi tidak jauh berbeda dengan produk sebelumnya hanya tampilan dan nama saja yang saya rubah. Alhamdulillah saat ini saya mulai menikmati hasil perubahan itu, sudah 3 bulan ini penjualan produk baru ini mencapai 50% dari total produk yang kami miliki. Pada aplikasi penjualan online via Go Food juga menjadi produk terlaris  selama dua bulan terakhir ini. Produk itu adalah: Nasi Goreng Merapi, Nasi Goreng Kaliurang dan Nasi Goreng Kambing yang sebenarnya hanya pengembangan sederhana dari Nasi Goreng Ayam, Nasi Goreng Udang dan Nasi Goreng Kambing.



Saya yakin dengan setuhan ide dan kreativitas produk-produk UKM yang saya temukan di Pameran Gelar Produk UKM Istimewa ini akan menjadi produk yang laris diterima oleh masyarakat. Salam UKM. (AWB)

Referensi:
www.diskopumkm.jogjaprov.go.id
www.plutjogja.com




0 comments: