Friday, May 3, 2019

Menguji Produk UKM Melalui Pameran

SUPERTELUR, 3/5/2019. Pameran produk UKM bagi pelaku UKM merupakan tempat pertama untuk menguji produknya, apakah diterima atau ditolak oleh masyarakat. Seperti " Gelar Produk Makanan & Minumn Istimewa" yang dilaksakan oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY pada tanggal 3 dan 4 Mei 2019 di Jl. Malioboro.

Dewasa ini banyak media yang bisa kita gunakan untuk memasarkan produk-produk yang kita miliki, yang paling populer adalah melalui internet, bisa media sosial, halaman web maupun blog. Namun pameran produk secara langsung tetap perlu diikuti oleh UKM pemula. Pemasaran melalui dunia maya memiliki beberapa kendala, terutama tentang informasi kondisi sesungghnya produk dan kemampuan produsen dan konsumen dalam menggunakan tehnologi informasi. 
Untuk UKM pemula menawarkan produk melalui dunia maya tentu akan membutuhkan usaha yang lebih, utamanya ntuk meyakinkan kepada calon konsumen akan produknya. Saya selaku konsumen akan memilih produk-produk yang sudah teruji oleh pasar, mungkin juga dengan banyak calon konsumen lainnya. Oleh karena itu pameran produk UKM akan menjadi semacam tempat untuk uji pasar sebelum UKM memasuki pasar sesungguhnya. Di sana, UKM masih memungkinkan  untuk melakukan perbaikan-perbaikan seperti; kwalitas produk, bungkus produk dan tentunya adalah harga terbaik untuk produk tersebut sampai akhirnya benar-benar bisa diterima oleh masyarakat. 
Tiga produk berikut ini adalah sebagian produk yang saya temukan pada acara Pameran "Gelar Produk Pelaku Makanan dan Minuman Istimewa" yakni; Geblek, Bakpia, Es Kuwut. Berikut ini adalah review untuk masing-masing produk dimaksud.

Geblek


Geblek adalah makanan tradisional terbuat dari sari/pati singkong/telo. Geblek banyak dijumpai di daerah perbukitan Menoreh, yakni Kulon Progo, Purworejo dan Magelang bagian selatan. Biasanya geblek disajikan dalam keadaan hangat bersama dengan sengek tempe benguk. Pedagang Geblek menggelar dagangannya seperti pedagang gorengan berjualan, mereka memasak langsung produknya sambil memajangnya dalam etalase sederhana. Pedagang geblek banyak kita jumpai di daerah-daerah tersebut, biasanya di pinggir jalan, perempatan, pasar dan pusat keramaian lainnya. Meski begitu, tampilan penjual geblek yang saya jumpai selalu tradisional dan apa adanya. Saya mendapat kesan yang berbeda pada geblek yang saya temukan pada acara pameran kali ini. Selain kemasannya yang sudah kekinian, geblek yang dijual terdiri dari beberapa varian rasa, mulai dari: original, tuna, tenggiri dan udang selain itu kami diberi pilihan untuk membeli dalam keadaan hangat maupun beku sehingga saya bisa membawanya pulang dan menyesuikan waktunya kapan geblek itu akan saya nikmati. Harga produk geblek ini juga sangat terjangkau hanya Rp 12.000,- per bungkus.
Beberapa tahun yang lalu, saya sudah  menemukan produk yang hampir sama dengan geblek di supermarket yakni cireng beku. Produk yang sama-sama terbuat dari sari/pati singkong, tradisional dan merakyat. Anak-anak saya  suka sekali produk tersebut, namun sayang hanya di jual di supermarket Jakarta dan sekitarnya, saya selalu titip beli produk tersebut kalau kebetulan ada kerabat yang pergi ke Jakarta. Pada saat itu saya bermimpi, suatu saat anak-anak saya bisa membeli produk ini di Yogyakarta dimana kami tinggal. Hari ini mimpi itu menjadi kenyataan, saya menemukan produk kesukaan anak-anak saya, Geblek Khas Kulonprogo  Mr. Telo.

Bakpia Citra

Bakpia adalah makanan ikonik dari Yogyakarta, sehingga sering ada istilah "Belum ke Jogja kalau belum beli bakpia". UKM yang memilih membuat produk bakpia untuk produk yang dijual berarti sudah siap untuk berdarah-darah bersaing dengan produsen bakpia lain yang sudah ada di Yogyakarta atau bisa jadi UKM tersebut sudah yakin memiliki produk bakpia lebih baik dibanding yang lainnya. Di Yogyakarta, produsen bakpia sangat banyak mulai dari usaha mikro, kecil, menengah maupun besar seperti Bakpia Patok 25. Oleh karena itu pendatang baru produsen bakpia harus berani berbeda membuat produknya  dengan yang sudah ada sebelumnya baik dari sisi produk maupun harganya.
Produk Bakpia Citra memiliki perbedaan dengan bakpia lain yang pernah ada di Jogja yakni pada masa kedaluwarsa. Bakpia pada umumnya memiliki masa kedaluwarsa hanya 3 hari, setelah itu kualitas rasanya mulai menurun walaupun disimpan di kulkas, namun Bakpia Citra memiliki masa kedaluwarsa lebih dari satu minggu. Selain itu Bakpia Citra memiliki beberapa varian rasa yakni; keju, susu, duren dan kacang ijo. Bakpia Citra memiliki kulit bapia yang lebih kering dibandingkan dengan bakpia lainnya. Saya pernah menemukan produk bakpia kering di Yogyakarta yakni produk dari Kurnia Sari, namun berbeda Bakpia Kurnia Sari yang memiliki kulit dan  isi  kering  juga sementara Bakpia Citra hanya isinya saja yang kering isinya masih tetap basah dan lembut sehingga citarasa bakpianya masih terasa.Harga yang ditawakan memang cukup mahal, lebih mahal dibandingkan dengan bakpia lainnya yakni Rp 45.000,- per bungkus isi 15 biji.
Mesti Bakpia Citra harganya relatif mahal namun dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki produk ini masih layak untuk dibeli. Pada akhirnya nanti konsumen akan "niteni" ada harga ada kualitas.

Es Kuwut

Mesti namanya Es Kuwut, produk ini tidak jauh beda dengan Es Jeruk Nipis yang saya temukan beberapa waktu yang lalu di tempat lain, yang membedakan adalah isiannya lebih banyak, ada kelapa muda, biji bunga selasih, blewah  dan tentu saja adalah irisan jeruk nipis. Kelapa muda dan blewah diiris halus memanjang sehingga memberi sensasi saat diminum seperi dawet tapi segar. 
Es Kawut dijual lebih mahal dibandingkan Es Jeruk Nipis, selain karena isian yang lebih banyak Es Kawut dikemas dengan cup ukuran lebih besar yakni 14". Satu cup Es Kawut ditawarkan dengan harga Rp 10.000,-

Pameran produk UKM adalah batu loncatan bagi UKM pemula untuk mengembangkan usahanya. Pada saat pemeran, pengunjung banyak karena promosi dari panitia, suasana meriah karena ada acara pendukung, tempatnya strategis sehingga produk kita laku dan dikenal masyarakat. Namun perjuangan sesungguhnya bagi UKM adalah saat mereka kembali ke dunia nyata, promosi sendiri, tanpa dukungan acara lain, mencari tempat jualan sendiri saat itulah produk kita diuji diterima atau ditolak oleh masyarakat.

Saya selalu antusias mengikuti pameran saat memulai usaha dulu, bukan hasil penjualan yang menjadi prioritas tapi review/masukan dari konsumen atas produk yang saya tawarkan untuk selanjutnya saya perbaiki pada pameran-pameran beikutnya sampai pada akhirnya mendapatkan produk yang bisa diterima oleh masyarakat. Salam UKM. (AWB)


Jakarta, 3 Mei 2019

Referensi:

www.diskopumkm.jogjaprov.go.id
www.plutjogja.com

0 comments: