Sunday, February 9, 2020

Digitalisasi Produk pada Pameran Produk Lokal UKM "Pasar Rakyat" Yogyakarta

Digitalisasi identik dengan modern berbasis tehnologi  informasi tinggi kekinian sedangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) identik dengan produk konvensional, manual dan jauh dari sentuhan modern. Apakah produk UKM di Pameran Produk Lokal UKM “Pasar Rakyat” pada 7-9 Februari 2020 gelaran Dinas Koperasi dan UKM D.I . Yogyakarta sudah ada yang menggunakan piranti modern berbasis digital untuk menunjang usahanya.  Saya tertarik untuk membuktikannya.

Supertelur Taliroso, 9/2/2020. Disambut rintik hujan gerimis saya mengunjungi Pameran Produk Lokal UKM “Pasar Rakyat” pada Sabtu sore (8/2) di Alun-alun Sewandanan, Pakualaman Yogyakarta. Ada yang berbeda dari pameran-pameran sebelumnya, jika pameran sebelumnya area pameran hanya menggunakan sisi barat alun-alun maka pada pameran kali ini sisi timur juga digunakan untuk memamerkan produk-produk UKM. Sementara sisi barat digunakan untuk panggung utama yang ukurannya jauh lebih besar dari biasanya.

Menyesuaikan tema “Pasar Rakyat”, panitia menggelar aneka kesenian tradisional yang identik dengan rakyat umum dan tentunya  merakyat  untuk menambah meriah acara tersebut. Pada saat itu di panggung utama sedang berlangsung atraksi “jathilan” atau kesenian kuda lumping. Antusiasme penonton menyaksikan pertunjukan tersebut cukup tinggi, penonton berjubel mengelilingi depan panggung.

Puas menyaksikan atraksi kuda lumping, pengembaraan saya berburu  produk UKM dimulai. Saya menyebrang ke sisi timur alun-alun Sewandanan untuk menyaksikan aneka produk lokal UKM mulai dari; makanan, craft, ecoprint, asesoris, fashion dan produk UKM lainnya.

Hawa dingin mulai merasuki tubuh, pakaian yang sedikit basah diguyur rintik hujan menambah rasa dingin. Saya mencium bau yang khas, saraf penciuman saya tak pernah salah, ini adalah bau kopi. Sejurus kemudian saya mulai mencari-cari dari mana gerangan sumber bau kopi tersebut.
Stand Kopi Japemete tampil kekinian dengan  sentuhan peralatan modern 

Jumlah stand pameran lebih dari 30 unit, namun saya tak kesulitan menemukan sumber bau kopi yang berasal dari salah satu stand tersebut. Stand kopi berada di deret terdepan paling ujung kalau kita dari arah selatan. Stand Japemete Koffie namanya, sangat kekinian “Japemete” berasal dari bahasa prokem khas Yogyakarta. “Japemete artinya cahe dewe atau bocahe dewe”.  kata penjaga stand ketika ditanya arti kata Japemete. Pemilik usaha berharap Japemete bisa mengikuti sukses Dagadu yang sama-sama menggunakan bahasa prokem, lanjut  penjaga stand.

Bukan saja nama yang unik, pelayanan dan cara menyajikan produk tersebut terbilang sangat kekinian dan modern untuk ukuran UKM. Saat saya datang ke stand dan kelihatan bingung untuk memesan tiba-tiba datang pelayan dan  menyapa dengan ramah, “Selamat sore, mau pesan apa Pak?”, tanya pelayan tersebut. Sambil membawa layar monitor ukuran 10” atau semacam tablet, pelayan tersebut menunjukkan daftar menu disertai foto dan harga untuk masing-masing produk.

Puluhan menu kopi dan turunannya tersedia di stand tersebut, saya memilih kopi susu dengan harga Rp 10 ribu. “Tunggu sebentar ya Pak, pesanan kami proses”, kata pelayan tersebut sambil tersenyum mempersilahkan saya untuk menunggu pesanannya.

Saya mengamati bagaimana pesanan saya dikerjakan oleh bartender, lincah sekali ia mempergunakan peralatan yang ada di tempat itu. Mulai dari menimbang bahan, mencampur masing-masing bahan, menyeduhnya dengan air panas dilakukan dengan sangat cepat dan terukur. Atraksi itu cukup menarik, saya sangat terhibur. Lima menit berselang pesanan saya telah selesai, saya mendapatkan satu cup kopi susu panas yang cukup untuk  menghangatkan badan saya. Segar sekali rasanya.

Sebelum meninggalkan stand kopi tersebut saya bertanya kepada pelayan, dimana alamat kedai kopi Japemete selain di pameran. “Bapak bisa follow instagram kami @japemete_jogja nanti ada alamat kami di situ sekaligus promo menarik setiap hari”, pelayan menjelaskan pertanyaan saya. Saya tertegun dan bangga dalam hati saya, sudah seperti ini perkembangan UKM di Jogja.

Meninggalkan stand kopi Japemete saya mlipir menghindari rintik hujan menuju stand fashion. Pandangan saya tertuju pada stand Peci Batik Jogokariyan. Jauh sebelumnya saya sudah melihat iklan produk ini di beberapa media sosial, salah satunya adalah Facebook.
Peci Batik Jogokariyan memanfaatkan Facebook Ads dan Tokoh Terkenal untuk promosi
Peci Batik Jogokariyan memanfaatkan Facebook Ads untuk memasarkan produk-produknya. Fitur Facebook Ads mempromosikan Fan Page yang berisi aneka produk dengan jangkauan sesuai keinginan yang bisa diatur oleh pemilik Fan Page tersebut. Peci Batik Jogokariyan sudah memanfaatkan fasilitas tersebut sehingga produk ini sudah dikenal oleh masyarakat.

Selain media sosial, Peci Batik Jogokariyan menggunakan model tokoh-tokoh terkenal Nusantara mulai dari para artis sampai ustadz untuk memperkenalkan produknya. Sebut nama seperti Sandiaga Uno, Arie Untung dan Ustadz Abdul Somad merupakan tokoh-tokoh yang digunakan untuk membantu promosi produk peci batik tersebut.

Kripik Singkong Mbah Gayeng adalah stand ketiga yang saya kunjungi. Produknya sederhana, banyak ditemui di pasar, warung kelontong maupun toko oleh-oleh. Yang membedakan produk kripik singkong Mbah Gayeng ada di campuran rasa yang digunakan pada kripik tersebut. Mbah Gayeng menawarkan varian produknya menjadi empat rasa kripik singkong, mulai dari: original, pedas manis, balado dan sambal ebi. Meskipun bukan satu-satunya karena saya juga banyak menjumpai produk serupa di tempat lain namun kemasan dan cara promosi kripik singkong Mbah Gayeng berbeda dengan lainnya.
Mbah Gayeng Memanfaatkan Media Sosial untuk Memasarkan Singkong

Kemasan kripik singkong Mbah Gayeng sudah menggunakan plastik stand up punch yaitu jenis kemasan makanan dengan model vertikal berdiri (stand). Kemasan ini membuat produk tampil lebih elegan dan terlihat bagus. Selain itu kemasan model ini mampu memberikan daya tarik kepada konsumen. Meskipun hanya kripik singkong, tetapi Mbah Gayeng mempromosikannya melalui media digital seperti instragram @dapur_mbahgayeng dan lainnya.

Saat ini UKM menghadapi tantangan berat dengan menjamurnya jaringan ritel modern di seluruh Indonesia. Tak sedikit warung yang mati karena tak memiliki daya saing dengan ritel modern. Digitalisasi produk UKM dapat meningkatkan daya saing, melalui digitalisasi maka pasar UKM akan menjadi lebih besar. Dunia telah berubah, kita tidak bisa menghidar dari digitalisasi. UKM membutuhkan bantuan digitalisasi dalam memasarkan produk-produknya.
Tiga stand Pameran Produk Lokal UKM “Pasar Rakyat” Yogyakarta sudah membuktikanya, mereka bisa bersaing dengan produk pabrikan. Digitalisasi digunakan untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen dan memerluas pasar sehingga produknya bisa diterima oleh masyarakat luas.  (AWB)


*) Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Pameran Produk Lokal UKM “Pasar Rakyat” yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY pada tanggal 7 – 9  Februari 2020 di Alun-alun Sewandanan Pakualaman Yogyakarta.

0 comments: