Friday, February 28, 2020

Setangkup Rindu di Pameran Produk Lokal UKM Yogyakarta

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat,
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
(Yogyakarta, Katon Bagaskara)

Supertelur Taliroso, 29/2/2020. Potongan syair lagu Yogyakarta di atas menuntun saya untuk mengunjungi Pameran Produk Lokal UKM DIY. Informasi tentang Pameran Produk Lokal UKM bertajuk UKM Great Sale yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY pada tanggal 28 dan 29 Februari 2020  di Alun-alun Sewandanan Puro Pakualaman pada beberapa lini masa mendekatkan  hasrat tersebut, saya pasti datang.
Gerbang utama masuk lokasi pameran

Pagi itu, Jumat (28/2) pameran hari pertama, saya berkunjung ke lokasi.  Kemegahan panggung utama dan tata letak tenda UKM cukup menyita perhatian. Lomba menyanyi di panggung utama sedang berlangsung, sementara itu 40-an UKM yang terdiri dari pelaku usaha kuliner, fashion dan kerajinan sedang sibuk melayani para pengunjung. Riuh rendah suasana pameran menambah kemeriahan acara apalagi didukung cuaca  cerah langit Yogyakarta.

Dalam benak, saya ingin melepas kerinduan menemukan makanan tradisional paling “jadul” yang saat ini susah dijumpai. Perburuan pun dimulai, satu persatu stand UKM saya kunjungi mulai dari sisi utara sampai sisi selatan. Saya sudah menandai stand UKM  yang akan saya gali lebih dalam yang sangat menarik perhatian. Berpacu dengan waktu karena sebentar lagi datang salat Jumat,  saya tuntaskan berkeliling melihat  seluruh stand.

Puas berkeliling dan mengunjungi semua stand, saya memutuskan untuk kembali pada stand-stand yang sudah saya “incer” yang menarik perhatian.

Bu Bagyo, Aneka jajanan tradisional tempo dulu "tombo kangen"

1.   Tombo Kangen Bu Bagyo
Stand makanan tradisional Tombo Kangen Bu Bagyo menjadi stand paling menarik untuk dikunjungi. Stand ini letaknya paling ujung, di bagian sisi selatan lokasi pameran. Pengunjungnya selalu ramai, mungkin mereka memiliki perasaan yang sama dengan saya, kerinduan pada makanan jaman dulu.
Berbagai jajanan jaman dulu tersedia komplit di stand Bu Bagyo, mulai dari: aneka thiwul, aneka gethuk, sego abang, ketan, gathot, cenil, lopis, srondeng dan masih banyak lagi. Meski masih pagi, beberapa jenis jajanan di stand Bu Bagyo telah habis diborong oleh para pengunjung yang lebih dulu datang.
Bu Bagyo selalu sibuk melayani pengunjung
Sebagian jajanan sudah familier seperti: gatot, thiwul, cenil, lopis namun ada juga beberapa jenis makanan yang baru saya lihat dan dengar namanya di stand Bu Bagyo, seperti: hawuk-hawuk, legondo dan mendut. Sungguh ternyata kita memiliki kekayaan jenis makanan tradisional yang sangat beragam.
Mengunjungi stand Bu Bagyo, selain dapat mencicipi, saya juga mendapatkan berbagai referensi makanan tempo dulu yang sangat mengagumkan.
Tak ketinggalan, sebelum meninggalkan stand Bu Bagyo saya sempatkan untuk membeli beberapa jenis janajan, lebih dari 8 macam saya pilih yang dibungkus dalam 2 “tempel” kertas warna coklat. Saya senang karena mendapatkan makanan yang sudah lama tidak saya jumpai lebih senang lagi ternyata harganya sangat murah.

2.   Komunitas Wirausaha Bunda Sehat “Kriya Srikandi” DIY
Aneka produk dapat ditemukan di Stand Kriya Srikandi DIY
Stand kedua yang saya kunjungi adalah stand “kroyokan” yang terdiri dari berbagai UKM yang bergerak di bidang kerajinan, kuliner maupun fashion. Saya menemukan minimal 3 produk unik di stand ini, yaitu; Batik kukus OliviaRu, Batik Amaryllis serta Larizzy.
Namanya memang Batik Kukus tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ini adalah produk fashion. Batik Kukus merupakan produk makanan kue berbentuk seperti donat bulat dengan toping berupa hiasan batik yang terbuat dari coklat dan keju warna-warni. Sekilas lebih mirip mainan yoyo tetapi jika diamati lebih dalam warna dan tekstur makanan kelihatan menarik. Pemilik Batik Kukus mengklaim, makanan ini sebagai oleh-oleh kekinian dari Yogjakarta yang unik serta merupakan produk yang authentic dan yummy.
Selain di stand pameran, penjualan produk ini dilakukan melalui online melayani COD dalam kota Yogyakarta. Untuk mendukung penjualan, dibantu pemasaran melalui IG: Batik Kukus dan Youtube Channel: OliviaRu’s Kitchen Story.

Batik Amaryllis mengusung produk kain batik motif klasik dengan sentuhan kekinian. Untuk membedakan dengan produk batik lainnya, kain batik corak klasik koleksi Amaryllis mendapat sentuhan warna mencolok pada beberapa bagian. Sentuhan warna mencolok tersebut nampak padu dengan pilihan motif klasik yang ada pada kain. Inovasi ini menjadi pembeda dengan batik klasik maupun kontemporer yang sudah ada sehingga memiliki penggemar yang berbeda. Kejelian pemilik usaha menciptakan kresasi baru ini patut mendapatkan apresiasi.

Larizzy mengusung konsep produk makanan kemasan herbal yang dikombinasikan dengan berbagai bahan berkualitas  untuk menambah nilai gizi pada produk. Produk berupa makanan dan minuman baik yang siap saji maupun harus dimasak terlebih dahulu. Keragaman produk menjadi kekuatan dari Larizzy, sebut misalnya kripik, tersedia aneka kripik di Larizzy mulai tempe, aneka sayur, ati dan jenis kripik lainnya. Kekuatan lain yang dimiliki Larizzy adalah pada kemasan yang sudah cukup modern dan berlabel.

3.   Lur-Lur Coffee
Lur-Lur Coffee kopi lokal cita rasa global
Stand ini menarik saya dari sisi display yang kekinian. Meskipun dengan stand pameran yang luasannya terbatas, Lur-Lur Coffee mampu mendisplay produk dan peralatan penunjang sedemikian rapi dan menarik. Aneka jenis kopi baik yang sudah digiling, dalam kemasan maupun biji kopi utuh dengan berbagai keterangannya berjajar rapi di meja stand. Peralatan penunjang; penggilingan, alat ukur, alat pembuat kopi ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung tidak hanya menikmati kopi tapi juga suasana stand yang cukup artistik.
Lur-Lur Coffee  mengusung konsep motor coffee mungkin maksudnya ingin membidik konsumen “biker” anak muda yang memang jumlahnya cukup banyak. Dengan brand product “original product of Yogyakarta” Lur-Lur Coffee ingin produknya dikenal masyarakat sebagai kopi asli Yogyakarta yang memang produk kopi ini berasal dari pohon-pohon kopi yang ditanam di lereng Gunung Merapi. Dua varian kopi yang ditawarkan oleh Lur-Lur Coffee adalah Arabica dan Robusta tentu dengan harga yang sangat terjangkau. Satu lagi produk kopi asli Yogyakarta akan memperkaya khazanah perkopian Nusantara. 

Mengunjungi Pameran Produk Lokal UKM gelaran Dinas Koperasi dan UKM DIY kali ini membawa perasaan saya kepada masa lalu; makanan tempo dulu, batik dan kopi. Seperti syair lagu Yogyakarta “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu”, dan pameran ini telah mengobati kerinduan itu. (AWB)

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Pameran Produl Lokal UKM "UKM Great Sale" yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY di Alun-alun Sewandanan Puro Pakualaman pada tanggal 28 dan 29 Februari 2020.


0 comments: